Rabu, Oktober 01, 2008
IED MUBARAK 1429 H
Senin, September 22, 2008
DEV AMDAND! (BAGIAN KEDUA)
bagian kedua
Persia, Juni 637 M
Perang Qadisiyah
Kekuatan Islam: 28.000 orang
Kekuatan Persia: 120.000 orang + Pasukan Gajah
Segera setelah Mughirah r.a. meninggalkan perkemahan orang-orang Persia, Rustam meminta pasukan perangnya bersiap-siap untuk penyerangan esok pagi. Terdapat sebuah kanal antara dua pasukan perang. Ia memerintahkan membangun sebuah jembatan di atasnya. Hari berikutnya pagi-pagi sekali ia menyeberangi kanal dan menyerang kaum muslimin. Ketika kedua pasukan perang telah siap untuk bertempur, Saad bin Abi Waqqash r.a. berkata kepada Rustam melalui sebuah surat, "Rustam! Terdapat orang-orang bersamaku untuk siapa kematian (di jalan Allah) adalah lebih menarik daripada anggur bagi orang-orang dalam pasukan perangmu."
Pada akhirnya perang pun dimulai di Qadisiyah pada bulan Muharram, 14 H. (Juni, 637 H). Saad r.a. jatuh sakit dan memimpin operasi dari tempat tidurnya. Perang ini berlangsung panas dan bertahan selama tiga hari. Kaum muslimin sekitar 28 ribu sementara pasukan perang Persia 120 ribu. Rustam mempertunjukkan kecakapannya yang luar biasa dalam mengatur pasukannya. Pada hari pertama perang dimulai, di tengah-tengah pekik "Allahu Akbar" (Allah Maha Besar). Meski kaum muslimin menunjukkan keberanian dan kecakapannya yang luar biasa tetapi gajah-gajah Persia telah merusakkan kavaleri Islam. Kuda-kuda Arab tidak terlatih untuk bertempur dalam satu peperangan dengan menggunakan gajah. Bagaimanapun, pasukan pemanah dan berkuda muslim bersenjatakan tombak telah menghujani panah dan tombak serta memukul roboh banyak penunggang gajah. Perang berakhir tanpa kedudukan akhir.
Pada hari berikutnya pertempuran kembali berakhir tanpa satu kemenangan untuk salah satu dari dua pasukan. Pada hari ketiga kaum muslimin menyelubungkan potongan kain di sekujur tubuh unta mereka untuk menakut-nakuti. Rencana ini telah berjalan dengan sukses. Lebih-lebih lagi sejumlah pasukan pemanah muslim telah berhasil menusuk mata dari gajah-gajah tersebut dan memotong belalai mereka. Gajah yang telah buta itu itu berlari ke arah pasukan perang Persia dan menghancurkan barisan mereka. Pertempuran berlanjut sampai hari keempat. Sekarang gajah-gajah buta tersebut telah mencelakakan orang-orang Persia sendiri. Kemudian beberapa prajurit muslim diantara pemuka suku telah menyerang Rustam dan menghancurkan batalion khusus yang mengelilinginya. Langit-langit terpal Rustam telah tertiup angin ke udara dan dia sendiri mencoba melarikan diri. Ia telah diketemukan oleh kaum muslimin dan telah terbunuh. Melihat panglima mereka telah terbunuh, orang-orang Persia mulai melarikan diri dan menyelamatkan diri masing-masing. Pasukan Islam memenangkan peperangan menentukan ini. Terdapat sekitar enam ribu korban di pihak muslim, sementara di pihak Persia tiga puluh ribu orang terbunuh.
Pertempuran Qadisiyah terbukti menentukan dalam sejarah Islam. Menyusul kemenangan di Qadisiyah, pasukan Islam terus mengejar pasukan Persia. Selanjutnya kaum muslimin merebut Babal dan Kutsah dan kemudian mengepung Bahrah Syer, sebuah benteng pertahanan yang sangat penting dan kuat di daerah pinggiran ibukota Persia, Mada'in (Ctesiphon). Pengepungan berlangsung dua bulan dan akhirnya kaum muslimin merebut benteng pertahanan tersebut. Langkah berikutnya: Menaklukan Mada'in, ibukota Persia.
Kejatuhan Mada'in (Ctesiphon)
ibukota Persia
Kota Mada'in terletak di tepi sebelah timur Sungai Tigris dan hampir dikelilingi olehnya. Setelah istirahat beberapa bulan, panglima perang Saad bin Ubaidillah r.a. meminta ijin dari khalifah Umar r.a. untuk menyerbu ibukota. Ketika pasukan Islam bergerak maju, orang-orang Persia telah menghancurkan jembatan di atas sungai di atas sungai Tigris. Sungai tersebut dalam dan bergolak, tetapi tekad kaum muslimin tidak main-main. Mereka memiliki keyakinan penuh kepada Allah SWT, Pencipta alam semesta. Mengetahui penghancuran jembatan tersebut oleh orang-orang Persia, Sa'ad berkata,
"Allah telah membuat jalan di laut merah untuk Musa a.s. dan para pengikutnya. Dia pasti akan menolong kita yang mengikuti Rasul-Nya yang terakhir, Muhammad SAW."
Ia berkonsultasi dengan para jenderal dari angkatan perangnya dan kemudian memerintahkan kaum muslim menyeberang. Pertama dari keseluruhan enam puluh orang penunggang kuda menerjunkan diri mereka ke sungai dan menyeberanginya. Kemudian seluruh pasukan menyeberang sungai seakan-akan berjalan di atas tanah. Melihat pasukan Islam menyeberang sungai, pasukan pemanah Persia menghujani panah atas orang-orang muslim. Sa'ad ra. sebelumnya telah menunjuk enam ratus pasukan pemanah di atas bukit dekat tempat tersebut. Mereka menyerang kaum Persia yang terkejut. Melihat pemandangan yang dahsyat ini, orang-orang Persia berlarian tunggang-langgang sambil berteriak-teriak ketakutan,
"DEV AMDAND! ... DEV AMDAND! ... DEV AMDAND!..."
("RAKSASA TELAH DATANG!... RAKSASA TELAH DATANG!... RAKSASA TELAH DATANG!...")
Kaisar Yezdagird dan para menterinya sudah melarikan diri dari istana dan ibukota direbut tanpa suatu perlawanan yang berarti. Dengan kemenangan ini, seluruh wilayah antara sungai Eufrat dan sungai Tigris (Irak dan Iran kini) telah berada di bawah kekuasaan kaum muslimin.
"Sekelompok kaum muslimin akan merebut istana Putih dari Kaisar Persia."
tammat
----------------------------------
dev amdad!... dev amdand!... dev amdand!..
kapan kata-kata itu terucap lagi dari musuh kita?
Ijinkanlah Ya Allah..
DEV AMDAND! (RAKSASA TELAH DATANG!)
bagian pertama
TAHUN 636 M
( 4 tahun setelah Nabi Muhammad SAW wafat)
Kepala Pemerintahan Islam: Umar bin Khattab r.a.
Daerah Kekuasaan: jazirah Arabia, Damaskus & sebagian Irak.
Selama pemerintahan Abu Bakar r.a., panglima Khalid bin Walid r.a. menduduki sebagian kekaisaran Persia yang dikenal sebagai Kerajaan Hira. Kemudian beliau diperintahkan oleh Abu Bakar r.a. untuk bergabung dengan ekspedisi di Syria. Pada waktu keberangkatannya, khalifah menunjuk Mutsanna bin Harits r.a. sebagai panglima pasukan perang Islam menggantikan Khalid. Orang-orang Persia menjadi sangat geram atas hilangnya sebagian wilayah kerajaan Hira, dan kaisar mengirim satu pasukan perang yang besar di bawah komando seorang Jenderal yang termasyhur dan amat disegani, Rustam, Panglima Tertinggi Angkatan Perang Persia. Mengingat tekanan semakin meningkat dari orang-orang Persia, Mutsanna meminta Umar r.a. untuk memperkuat pasukannya. Pada waktu itu di Madinah terjadi suksesi dan tengah berlangsung pembaiatan khalifah Umar r.a. Beliau kemudian mengajukan masalah Mutsanna di hadapan kaum muslim, namun pada mulanya tidak mendapat tanggapan. Kemudian Umar r.a. dalam kutbahnya menekankan akan pentingnya jihad, dan sejumlah besar sukarelawan muslim diberangkatkan. Abu Ubaid ats-Tsaqafi telah ditunjuk sebagai komandan angkatan perang Islam yang terdiri dari 5000 orang.
Perang Namariq
Ketika Abu Ubaid telah sampai di sana, suatu pertempuran berlangsung di Namariq dan kaum muslimin telah memenangkannya. Sejumlah jenderal yang terkenal dari tentara Persia Jaban, tangan kanan Rustam, telah terbunuh. Beberapa pertempuran kecil juga berlangsung di Kaskar dan di tempat lain.
Perang Jembatan
Kekalahan pasukan Persia mengejutkan Rustam. Ia kemudian menghimpun satu pasukan perang yang besar untuk menghadapi kaum muslim. Pasukan perang Persia berhadapan dengan muslimin di tepi lain dari Sungai Eufrat di bawah komando Bahman, seorang prajurit Persia yang termashyur. Bahman bertanya kepada Abu Ubaid r.a. apakah orang-orang Persia harus menyeberang ataukah orang-orang muslim. Abu Ubaid terlalu percaya diri dan memilih untuk menyeberangi sungai. Meski demikian, beberapa jenderal muslim seperti Mutsanna tidak ingin menyeberangi sungai dan lebih suka membiarkan orang-orang Persia yang datang. Angkatan perang Islam telah menyeberangi sungai tetapi kalah dalam peperangan tersebut. Abu Ubaid r.a. juga mati syahid. Tongkat komando diambil alih Mutsanna dan memerintahkan untuk membangun kembali jembatan yang telah dihancurkan. Gajah-gajah pasukan perang Persia telah menyebabkan banyak kerugian bagi pasukan perang kaum muslimin. Betapapun Mutsanna hanya dapat menyelamatkan 3000 orang dari 9000 pasukan perang muslim.
Perang Buwaib
Khalifah Umar r.a. terguncang atas kekalahan pasukan Islam. Beliau mengirim pesan-pesan khusus ke berbagai anggota suku dan mendorong umat Islam mempersiapkan diri guna perang suci melawan Persia. Satu bala bantuan besar baru dikirim untuk membantu paukan Mutsanna Dalam pasukan ini sejumlah orang-orang Arab Kristen juga termasuk di dalamnya.
Orang-orang Persia juga telah menghimpun satu pasukan perang yang sangat besar. Pada waktu itu Rustam, Panglima Tertinggi Angkatan Perang Persia, telah menunjuk Mehran Hamdani sebagai komandan pasukan karena ia telah berkeliling Arab dan tahu cara bertempur mereka. Pasukan Islam, di bawah pasukan Mutsanna, bertemu di satu tempat yang bernama Buwaib. Pasukan Islam berjumlah sekitar 20 ribu orang, sementara Pasukan Persia berjumlah sepuluh kali lipatnya, 200 ribu orang pasukan tempur. Pertwmpuran pun berlangsung demikian sengitnya. pasukan Islam bertempur matia-matian dan setelah suatu pertempuran yang gigih, orang-orang Persia berhasil dikalahkan. Mereka tidak dapat menemukan jalan untuk menyeberangi sungai Eufrat karena jembatan yang telah mereka bangun dihancurkan oleh kaum muslimin. Telah terjadi kekacauan total di dalam angkatan perang Persia. Komandan angkatan perang, Mehran telah terbunuh dalam pertempuran ini dan tidak kurang seratus ribu orang melayang nyawanya di medan perang. Sebagai hasil dari kemenangan in, seluruh bagian Barat kekaisaran Persia (sekarang negara Irak) jatuh ke dalam tangan muslimin.
Pergantian Penguasa Persia
Kekalahan hebat di Buwaib mengguncangkan kekaisaran Persia. Tidak hanya bagi penguasa, tapi juga menimbulkan kegusaran bagi masyarakat setempat. Umat Islam yang selama ini dinilai remeh dan hanya dipandang sebelah mata, kini menjadi kekuatan yang menakutkan. Untuk pertama kalinya mereka menyadari kekuatan Islam. Kerusuhan berskala besar menggoyang istana Persia. Kaisar perempuan yang sedang berkuasa Puran Dukht akhirnya digantikan Kaisar muda berusia 20 tahun, Yezdagird. Kaisar baru ini kemudian membangun kembali kekuatan militer Persia dan memperkuat pertahanan di perbatasan. Terjadi kembali pertempuran-pertempuran sporadis di kantong-kantong Islam yang mengakibatkan kaum muslimin kehilangan lagi beberapa bagian daerah taklukannya.
Umar r.a. menyatakan jihad ke seluruh negeri dan mengumpulkan pasukan dari berbagai penjuru daerah sampai terkumpul angkatan perang yang berjumlah 20 ribu pasukan Islam. Umar sendiri ingin memimpin pasukan perangnya waktu itu, tetapi Majlis Syura tidak menyetujuinya. Nama Saad bin Abi Waqqash r.a. seorang prajurit besar telah diusulkan untuk memimpin pasukan ini. Sepasukan militer ini istimewa, karena di dalamnya termasuk 70 sahabat veteran Perang Badar Al Kubra.
Delegasi Islam
Sebelum pertempuran pecah, umat Islam berkemah di Qadisiyah. Di sana Saad r.a. mengirim Nu'man r.a sebagai utusan Islam ke istana Persia. Sebuah istana yang bergelimang perhiasan, kemegahan dan kemuliaan duniawi dari orang-orang Persia. Di hadapan kaisar Yezdegird Nu'man ini berkata dengan lantang:
"Wahai orang-orang Persia, kami menyeru kalian kepada jalan kedamaian ini, Islam. Jika kalian menerimanya, kalian adalah saudara-saudara kami dan kami akan tinggalkan kitab Allah, Al-Quran, sebagai pembimbing kalian mengikuti perintah-perintah-Nya. Jika kalian menolak pesan ini, bayarlah jizyah (pajak pertahanan). Pilihan ketiga adalah perang apabila kalian menolak dua tawaran pertama tadi, agar kami bisa melakukan sesuai keinginan kami untuk menyebarkan pesan suci ini."
Kaisar Yezdagird amat membanggakan kekuatan angkatan perangnya. Mendengar seruan Nu'man ini, hilang kesabarannya. Ia mengambil sebuah keranjang penuh tanah dan meletakannya di atas kepala utusan Islam itu. Delegasi Islam itu kembali ke kamp Qadisiyah membawa keranjang tanah sebagai tanda kemenangan.
Kaisar Persia mengirim satu pasukan perang yang terdiri dari 100 ribu orang. Pada waktu itu, Rustam sendiri, Panglima Besar Persia yang memimpin pasukan. Rustam pada saat itu telah merasa gentar terhadap kaum muslimin dan ragu-ragu berhadapan dengan mereka. Ia membutuhkan waktu enam bulan untuk mencapai Qadisiyah dari ibukota Persia, Mada'in (Ctesiphon). Sebelum pertempuran, ia ingin melakukan negosiasi dengan kaum muslimin terlebih dahulu. Delegasi muslim pergi ke kemah Rustam dikepalai Rabi' bin Amir r.a. Di sana berlangsung perdebatan panjang dan tidak ada keputusan diambil. Rabi' r.a. menyampaikan pesan Islam dan mengajukan tiga syarat yang sama sebagaimana diajukan sebelumnya oleh Nu'man di hadapan kaisar. Pada hari kedua Rustam kembali meminta Sa'ad r.a. untuk mengirimkan delegasi. Saat itu ia mengutus Hudzaifah r.a. yang mengajukan tiga syarat yang sama dan mengatakan kepada Rustam apabila ia tidak menerimanya dalam waktu tiga hari, pilihan ketiga yakni penggunaan pedang akan tetap dilakukan atasnya.
Pada hari ketiga, Rustam lagi-lagi meminta seorang utusan dan saat itu Mughirah bin Syu'bah r.a. yang pergi. Rustam mencoba bernegosiasi berkenaan dengan uang dengan kata-kata:
"Aku pikir kalian miskin dan kelaparan. Kami akan memberi Anda demikian banyak harta kekayaan yang cukup untuk seluruh hidup Anda"
Mendengar hal ini, Mugirah r.a. dengan marah menjawab,
"Tentu saja kami lapar dan miskin tetapi Allah telah mengirim Rasul-Nya kepada kami karena dari siapa takdir kami berubah dan Allah memelihara kami. Beliau meminta kami untuk menaati hanya satu Allah dan menyebarkan pesan-Nya. Jika Anda mengikuti pesan-Nya (Islam) Anda adalah saudara kami, dan kami tidak akan berperang dengan Anda. Jika tidak, maka biarkan kami menyebarkan kalimah-Nya dan Anda membayar kami jizyah. Sebaliknya, kalau tidak pedang akan memberikan keputusan terakhir."
Mendengar hal ini Rustam geram dan bersumpah untuk membunuh semua orang Muslim segera ketika terbit matahari berikutnya. Mughirah r.a. segera kembali ke kemah Islam seraya berkata, "La haula wa la quwata illa billahil Adzim" (Tiada daya dan upaya kecuali Allah Yang Maha Agung).
TRAGEDI ZAKAT, TRAGEDI UMAT
Masya Allah... Sebuah antrean demikian panjang yang terdiri kaum lemah papa dan orang miskin seadanya. Pemandangan yang menggetarkan hati nurani dan rasa kemanusiaan. Subhanallah... Sekitar Rp.200 juta berupa zakat rencananya akan dibagikan kepada lebih dari 10.000 orang yang berhak menerimanya di pelataran rumah sang muzakki. Inna lillahi... Dua puluh satu orang (data resmi pemerintah) kaum dhuafa mati lemas kehabisan napas akibat sesaknya antrean.Penulis berduka cita sedalam-dalamnya atas tragedi pembagian zakat di Pasuruan. Insya Allah saudara-saudara kita yang meninggal dalam menunaikan rukun Islam ini tercatat mati dalam keadaan husnul khatimah. Amin.
Cermin Retak
Di saat banyak pemimpin bangsa kita ini banyak bersolek menjelang pesta politik 2009, tragedi ini amat mengganggu pikiran. Bukan karena korbannya, tapi kekhawatiran siapa yang akan dipersalahkan. Tentu pemerintah tidak mau menunjuk hidungnya sendiri bukan? Jadi, tanggung jawab dari peristiwa mematikan ini pasti dan "harus" lebih banyak ditimpakan kepada si sohibul bait, yakni si pemberi zakat. Seolah-olah pemerintah berucap, "Tuh kan, apa kata saya. Amatiran sih, Lain kali, kalau urusan bagi-bagi duit, serahkanlah kepada pemerintah. Kami kan udah pengalaman di BLT jilid I dan II". Menepuk air di belanga, terpercik muka sendiri.
Media massa yang meliput kasus ini secara "reality show" dengan mudahnya memelintir opini dan dengan enteng mencampuradukkan fakta dan opini. Untuk sekadar untuk lebih "melezatkan rasa", maka perlulah ditambahkan bumbu-bumbu kisah berbau mistik seolah-olah selama pembagian zakat selama ini selalu makan korban. Objektifkah ini? Peduli setan. The show must go on..
Ingatlah, media massa yang tahu betul situasi di sana telah berdosa karena mendiamkan suatu kemunkaran tengah terjadi. Bahkan seolah-olah 'kesurupan setan', mereka shoot juga detik-detik menjelang para korban meregang nyawa. Benar-benar tayangan realistik tanpa efek apapaun. Ini baru berita. Sad but true.
Hikmah
Bagaimanapun ini kesalahan kita semua. Ada sebagian diantara kita yang secara sengaja dan zalimnya menutup-nutupi kebenaran tentang data kemiskinan sehingga membludaknya jumlah penerima zakat menjadi suatu hal yang tidak terduga sebelumnya. Di sisi lain, terdapat pula segelintir elite yang mengambil situasi ini untuk menyalahkan siapapun dan apapun yang berseberangan dengan kepentingan dan ambisi politiknya. Ada lagi sekumpulan makhluk aneh yang mendramatisasikan korban kemiskinan untuk tujuan komersil. Sisanya, dan ini paling banyak adalah seperti kita semua. Ordinary people. Manusia yang kerjanya berdiam diri dan masa bodoh terhadap kesulitan hidup umat manusia yang lain. Inilah tanda-tanda impotensi keimanan. Apa betul sudah sampai separah itu? Anda yang tahu jawabnya.
Semoga kita mendapat ampunan dari Allah SWT.
Wallahu a'lam bisawab
Selamat menunaikan ibadah shiyam
Selasa, Juli 15, 2008
KEPADA SAUDARAKU M. NATSIR
Meskipun bersilang keris di leher
Berkilat pedang di hadapan matamu
Namun yang benar kau sebut juga benar
Cita Muhammad biarlah lahirSuka dan duka kita hadapi
Bongkar apinya sampai bertemu
Hidangkan di atas persada nusa
Jibril berdiri sebelah kananmu
Mikail berdiri sebelah kiri
Lindungan Ilahi memberimu tenaga
Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu
Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi
Ini berjuta kawan sepaham
Hidup dan mati bersama-sama
Untuk menuntut Ridha Ilahi
Dan aku pun masukkan
Dalam daftarmu .......!
(HAMKA)
* Mengenang 100 tahun Allayarham Mohammad Natsir. Semoga kita mampu melanjutkan perjuangan beliau. Amin.
Rabu, Juni 04, 2008
BERSAMA (FPI) KITA BISA...
Sebuah insiden terjadi di Monas antara Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) dan Front Pembela Islam (FPI) . Sedianya AKKBB berniat menggelar acara memperingati hari lahirnya Pancasila. Tiba-tiba aktivis FPI merangsek dan menyerang kerumunan aksi dengan senjata seadanya. Puluhan orang luka-luka. Acara pun bubar jalan.Very Unnecessary. Insiden itu sebetulnya tidak perlu terjadi jika kedua belah pihak bisa menahan diri. Penulis yakin, tidak ada manusia yang punya selera untuk melakukan pengrusakan, kecuali ia sedang menderita penyakit jiwa. Ini bukan ciri muslim sejati. Mereka yang suka membuat kerusakan adalah salah satu ciri perbuatan orang munafik. Dan sepanjang pengetahuan penulis, kemunafikan bukanlah corak perjuangan dari FPI.
Mari kita telaah lebih lanjut Insiden Monas ini dengan menggunakan Pendekatan Sebab-Akibat.
Acara yang digelar Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) tentu tidak sekadar silaturahmi biasa. AKKBB ini adalah koalisi lintas agama dan lintas ideologi yang salah satu aspirasinya adalah menentang pembubaran Ahmadiyah. Dan jika dilihat lokasinya, di Monas, sudah barang tentu ini ada upaya dari aliansi ini untuk semacam 'apel siaga' dan 'penggalangan massa'. Bukankah dari jaman kemerdekaan (d/h Lapangan Ikada) tujuannya aksi di sana memang untuk itu?
Yang saya pribadi tak mengerti, mengapa ada dua massa yang begitu rawan konfrontasi berada di tempat yang sama. Menurut data kepolisian, aksi Forum Umat Islam, FPI dan Laskar Islam saat itu memang akan mengadakan Aksi Demo di Monas (tepatnya setelah acara Harlah Pancasila oleh PDIP). Massa AKKBB sebenarnya mendapat jatah tempat di Bundaran HI, namun massa mereka membandel dan berbelok arah menuju Monas. Terlepas ada atau tidaknya provokasi dari oknum AKKBB, melihat atmosfir seperti ini, kontak fisik antar dua kubu ini memang sulit dihindari (atau memang ini skenario yang diinginkan?).
Jika akibat bentrok ini menuntut penganganan hukum, maka penangkapan para aktivis FPI adalah resiko pahit yang harus diterima. Ini merupakan wujud tanggung jawab mereka. Yang menjadi keanehan adalah jika kejadian ini bergeser menjadi isunya dari fokus perhatian kita yang sebenarnya: Pembubaran Ahmadiyah.
Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa banyak elemen-elemen dalam masyarakat Islam baik ormas-ormas maupun partai Islam yang amat kecewa dengan pemerintah yang tidak mengambil sikap apa-apa dalam kasus Ahmadiyah. Padahal, MUI sudah mengeluarkan fatwa bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat.
Banyak yang belum paham permasalahan ini. Bagi penulis, domain ulama adalah mengeluarkan fatwa mengenai ajaran agama. Fatwa sudah dikeluarkan. Tinggal menunggu penanganan secara hukum tanpa pandang bulu berupa pembubaran Ahmadiyah. Ini adalah ranahnya pemerintah. Umat Islam amat mengerti aturan main yang demikian. Tidak ada tanggapan memuaskan dari pihak istana membuat umat Islam risau. Banyak aksi dilakukan. Bahkan, Forum Umat Islam (FUI) mengancam untuk tidak ikut pemilu jika masalah Ahmadiyah masih 'gantung'. Posisi pemerintah cukup tersudut dan defensif.
Setelah Insiden Monas, keadaan menjadi berbalik. Pemerintah lewat jubir kepresidenan tampak alergi dengan topik soal Ahmadiyah. Seolah-olah kerusuhan itu sama sekali tak ada hubungannya dengan masalah itu. Justru pemerintah sekonyong-konyong ganti menuding bahwa sebagian pihak yang beralasan bahwa ketidaktegasan pemerintah soal Ahmadiyah-lah yang menjadi pemicu konflik ini, hanya merupakan pengalihan isu saja terhadap pelaku tindak kekerasan yang melanggar hukum. Kok jadi paranoid begini? Sesuai fitrah manusia, jika sedang berbuat kesalahan, secara spontan tabiatnya memang menjadi sering ketakutan, was-was, cepat curiga dan tidak bisa berpikir jernih. Jika benar begitu psikologi pemerintahan saat ini, maka kita masih bisa bersyukur. Minimal pemerintah saat ini sadar bahwa dirinya sedang melakukan kesalahan. Masih ada waktu untuk kembali ke jalan yang benar.
Sekarang opini mulai bergeser dari pembubaran Ahmadiyah menjadi pembubaran FPI. Kita lihat saja apakah FPI, yang memang sudah terlanjur dibuat kesan brutal, kasar, vandalism dsb - dibubarkan atau tidak (penulis meragukan Esbamyud punya nyali untuk itu). Jika FPI dibubarkan dan pimpinannya diciduk sebagai terpidana, sedangkan Ahmadiyah tetap di 'awang-uwung', maka Esbamyud-Jukal akan berhadapan vis-a-vis dengan umat Islam. Tetapi, jika FPI tidak dibubarkan dan Ahmadiyah dibubarkan, maka mereka akan menghadapi kaum mainstream pro sekuleris, pluralis, atau apalah istilah lainnya. Langkah apa yang akan diambil? Tak tahulah. Apapun keputusannya, pasti akan makan waktu lama. Bukan apa2, Sudah hobi sih..
Catatan: Dilihat dari jumlah korban dalam insiden Monas (12 orang yang terluka), mencolok sekali bahwa isu ini sengaja diblow-up untuk pengalihan isu dan opini publik. Keterdedahan pemberitaan dalam Insiden Monas juga tidak berimbang. Opini negatif terhadap FPI sengaja dibentuk mendahului proses penanganan hukum terhadap kasus ini. Muaranya satu: Bubarkan Ah.., eh.. FPI. Simply as usual.
(Takbir..)
"Allahu Akbar"
Rabu, April 02, 2008
AGAMA DAN KESUSILAAN

(oleh Leopold Weiss)
Apapun juga aturan-aturan khusus dari bermacam-macam agama -- betapapun tinggi atau primitif ajaran-ajarannya, baik yang bertuhan satu, bertuhan banyak, maupun yang mengajarkan alam semesta sebagai tuhan -- inti dalam dari tiap pengalaman keagamaan di segala jaman, di sepanjang lintasan sejarah dan di semua peradaban, ada dua:
Pertama, keyakinan batin manusia bahwa semua yang ada dan terjadi di dalam alam ini adalah penjelmaan dari suatu Kekuasaan yang sadar, menciptakan dan meliputi segala sesuatu -- atau dengan perkataan yang lebih sederhana, suatu Kemauan Tuhan (Iradat Ilahi).
Kedua, perasaan bahwa seseorang harus, atau sedikitnya patut, menyelaraskan diri dengan Kemauan itu.
Berdasarkan perasaan dan keyakinan ini sajalah ditegakkan kesanggupan manusia untuk membedakan antara yang baik dan yang jahat. Jika kita tidak menganggap ada suatu Kemauan yang mutlak dan membuat rencana di dalam akar semesta alam ini, tidak akan ada artinya kita menganggap salah satu tujuan dan tindakan kita dapat dikategorikan sebagai benar atau salah, bersusila atau asusila.
Jika tidak ada kepercayaan kepada suatu Kemauan yang merencanakan seperti itu, semua pengertian kita mengenai kesusilaan pasti akan samar-samar dan makin lama makin tunduk kepada kepentingan sendiri: yaitu tunduk kepada soal, apakah suatu tujuan atau tindakan itu berguna atau tidak bagi orang tersebut, atau bagi masyarakat dimana ia hidup. Akibatnya, maka "yang benar" dan "yang salah" hanya menjadi istilah yang relatif, dan dapat ditafsirkan dengan sesuka hati, menurut kebutuhan-kebutuhan individu masyarakatnya, yang pada gilirannya dapat dikutak-katikkan oleh perubahan yang berlangsung terus menerus di dalam lingkungan sosial ekonomi suatu bangsa.
Peranan pikiran dan perasaan keagamaan di dalam alam kesusilaan ini memiliki kedudukan yang amat penting, jika kita menyadari bahwa pada masa ini ada kecenderungan kuat memusuhi agama sedemikian hebat. Dimana-mana dan tiap hari kita mendengar kecaman dari kaum cendekiawan, bahwa agama itu tidak lain adalah fosil bekas-bekas peninggalan jaman kebiadaban masa lampau, yang sekarang dianggap sudah tendesak oleh "Jaman Ilmu". Mereka mengatakan, bahwa ilmu akan menggantikan sistem-sistem keagamaan yang sudah usang dan kolot. Ilmu yang berkembang sedemikian megah dan tak tertahankan, akhirnya akan mengajar manusia agar hidup dengan "akal yang murni", dan kemudian menciptakan ukuran-ukuran kesusilaan baru tanpa suatu sanksi metafisik.
Optimisme kekanak-kanakan yang berkenaan dengan ilmu ini pada hakekatnya tidaklah modern sama sekali, bahkan sebaliknya terlalu kolot. Sebuah peniruan membabi-buta dari optimisme kekanak-kanakan di dunia Barat dalam abad ke-18 dan ke-19. Selama masa itu (dan terutama dalam bagian kedua dari abad ke-19), banyak ilmuwan Barat percaya rahasia-rahasia alam tidak lama lagi akan dapat mereka buka selubungnya, dan mulai saat itu tidak akan ada yang merintangi manusia untuk mengatur kehidupannya di alam yang terbebas dari kecaman akal yang dimiliki dewa-dewa.
Sedangkan pemikir-pemikir pada masa kita sekarang lebih berhati-hati -- jika tidak akan dikatakan sangsi tentang hal ini. Di bawah pengaruh ilmu fisika abad ke-20 yang modern dan dahsyat, mereka kini sampai pada sebuah kesimpulan bahwa ilmu deterministik tidak sanggup mengabulkan harapan-harapan rohaniah yang dibebankan kepadanya kira-kira seratus tahun lalu. Sebab pemikir-pemikir itu telah mengetahui bahwa rahasia-rahasia alam itu bertambah tebal selubungnya dan makin musykil jika penyelidikan kita semakin maju.
Tiap hari menjadi lebih jelas, soal-soal bagaimana terjadinya jagad ini, bagaimana hidup berkembang di dalam alam ini, dan apa yang sebenarnya menjadi gejala-gejala hidup itu sendiri, tidak akan pernah mungkin terjawab dengan semata-mata mempergunakan alat-alat ilmiah. Dan karena itu tidak dapat dijawab pula soal hakekat sebenarnya dan tujuan manusia itu hidup di muka bumi ini. Sampai kita sanggup menjawab pertanyaan terakhir ini, kita tidak dapat -- walaupun mencoba -- menetapkan nilai-nilai moral seperti "yang baik" dan "yang buruk". Ini semata-mata karena istilah semacam itu tidak berarti sama sekali, kecuali jika telah dihubungkan dengan suatu pengetahuan (sejati atau khayalan belaka) tentang hakekat dan tujuan hidup manusia.
Hal inilah yang mulai disadari oleh para ilmuwan yang telah tinggi kemajuan pikirannya. Mereka mengerti bahwa mustahil dapat dijawab soal-soal metafisik dengan menggunakan alat fisik saja. Penyelidikan mereka telah membuang jauh harapan kekanak-kanakan dari abad yang lalu, bahwa ilmu akan dapat memberikan petunjuk--petunjuk di bidang etika dan kesusilaan.
Cendikiawan Barat berpikiran maju ini bukannya tidak mempercayai ilmu. Sebaliknya, mereka meyakini bahwa ilmu akan menyibakkan manusia pada keajaiban--keajaiban yang lebih besar dari ilmu dan pencapaian. Namun, mereka menyadari pula bahwa daya-upaya ilmiah tidak memiliki hubungan langsung dengan kehidupan moral dan rohaniah manusia. Ilmu memang dapat dan telah membimbing kita ke dalam pemahaman yang lebih baik tentang dunia di sekitar kita dan di dalam diri kita. Akan tetapi, karena ia bekerja menyelidiki fakta-fakta di dalam alam, dan menganalisis hukum-hukum yang tampak dan menguasai saling hubungan dari fakta--fakta itu, maka ilmu tidak dapat dituntut memutuskan tentang tujuan hidup yang sanggup memberi kita petunjuk-petunjuk mengenai perilaku sosial yang harus diikuti. Hanya secara tidak langsung -- dengan demikian spekulatif -- ilmu itu dapat mencoba memberi kita Saran secara ilmiah.
Celakanya, karena ilmu selalu dalam keadaan berubah-ubah (selalu dapat diubah oleh penemuan fakta-fakta baru dari alam) -- dan akibatnya ia terus-menerus harus dinilai dan ditafsirkan kembali rangkaian fakta yang ditetapkan terdahulu -- maka saran itu diberikan dengan kebimbangan, dipaksa-paksakan, bahkan kadang-kadang amat bertentangan dengan saran yang diberikan sebelumnya. Pendeknya, ilmu itu tidak pernah sanggup menetapkan dengan pasti apa yang harus dan apa yang tidak harus dilakukan oleh manusia agar memperoleh kedamaian dan kebahagiaan. Dengan alasan ini, ilmu tidak dapat (juga tidak sungguh-sungguh mencoba) menanam kesadaran moral di dalam jiwa manusia. Permasalahan etika dan kesusilaan memang tidak terletak di dalam lapangan ilmu. Ia bersemayam seluruhnya di dalam lapangan agama.
Hanyalah dengan perantaraan pengalaman keagamaan, kita dapat sampai -- tepat atau keliru -- pada batas-batas nilai moral yang terbebas dari segala -perubahan fana di sekitar kita. Saya katakan, tepat atau keliru, karena dengan memperhatikan semua ajaran-ajaran agama dengan pemikiran yang obyektif, selalu akan terbuka kemungkinan bagi orang untuk keliru menggunakan pangkal dalil metafisik, suatu agama (atau agama apa saja). Sebagai akibatnya, akan menyimpang pula penilaian moral yang disimpulkan dari pangkal dalil itu. Dengan demikian, penerimaan atau penolakan kita terhadap suatu agama, sebagai ikhtiar penghabisan, harus dibimbing oleh akal kita, yang menyatakan kepada kita seberapa jauh suatu agama tertentu dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia yang pokok, baik jasmani maupun rohani.
Perlunya kita mengarahkan segenap kemampuan akal secara tajam berkaitan dengan ajaran-ajaran suatu agama, tidak sedikitpun mengurangi keyakinan dasar bahwa hanya agama saja yang dapat memberikan arti pada hidup kita. Keyakinan ini memperbesar dorongan dalam diri kita untuk menyesuaikan pemikiran dan perilaku diri kita dengan suatu pola dari nilai-nilai moral yang bebas sama sekali dari konstelasi sesaat dari kehidupan perseorangan. Agama dapat memberikan gelanggang yang luas untuk suatu persetujuan diantara kelompok-kelompok besar manusia mengenai apa yang baik (dan karena itu diinginkan) dan apa yang buruk (dan karena itu dihindarkan). Dan masih adakah lagi suatu keraguan, bahwa persetujuan semacam itu adalah syarat mutlak dan pasti untuk membangun ketertiban di dalam hubungan-hubungan manusia?
Ditinjau dari sudut pandang ini, hasrat keagamaan di dalam diri manusia bukanlah suatu taraf yang sekedar lewat di sepanjang sejarah perkembangan jiwanya, melainkan sumber terakhir dari semua pikiran etikanya dan semua pemahamannya tentang kesusilaan. Hasrat keagamaan itu bukanlah hasil dari keserampangan keyakinan primitif, yang akan ditinggalkan apabila sudah meningkat ke masa "pencerahan", melainkan satu-satunya pemuasan bagi kebutuhan manusia yang sejati dan pokok di setiap masa dan di dalam segala lingkungan. Dengan kata lain, ia merupakan insting.
Karena itu, adalah tidak berlebihan jika dikatakan bahwa suatu negara yang didirikan di atas dasar-dasar keagamaan memberikan harapan masa depan yang lebih baik bagi kebahagiaan nasional daripada suatu negara yang ditegakkan di atas pengertian tentang suatu organisme politik yang "sekular". Sudah tentu dengan syarat bahwa doktrin keagamaan yang menjadi sendi negara itu, memperhatikan sepenuhnya:
1. Kebutuhan biologis dan kebutuhan sosial manusia.
2. Hukum evolusi sejarah dan intelektual yang menguasai masyarakat manusia sebagai suatu keseluruhan.
Yang pertama dari dua syarat ini dapat dipenuhi hanya jika doktrin keagamaan tersebut mengakui adanya nilai positif, bukan saja dari sifat kerohanian manusia, tetapi juga tabiat biologisnya, sebagaimana pasti dilakukan oleh Islam. Syarat yang kedua dapat dipenuhi jika hukum politik -- yang akan menuntun perilaku masyarakat -- bukan saja konkrit, tetapi juga terbebas dari segala kekakuan, suatu yang kita tuntut bagi hukum politik sesuai ajaran yang termaktub di dalam Al-Quran dan Sunnah.